Dampak Sistemik bagi Dunia Usaha
Organisasi yang stagnan akan menghasilkan ekosistem yang stagnan pula. Jika KADIN tidak kuat secara internal, maka daya tawarnya di hadapan pemerintah melemah. Kebijakan ekonomi daerah bisa berjalan tanpa masukan optimal dari pelaku usaha.
Lebih jauh lagi, konflik internal dan soliditas yang rapuh hanya akan menguras energi. Alih-alih fokus pada ekspansi pasar dan penguatan daya saing, organisasi sibuk mengurusi persoalan internal.
Ini bukan sekadar persoalan kepemimpinan, melainkan masa depan ekonomi Sulawesi Tengah.
Jalan Pembenahan: Reformasi Total
KADIN Sulteng membutuhkan reformasi menyeluruh.
Pertama, transparansi total dalam pengelolaan keuangan dan aset melalui audit independen serta laporan berkala kepada anggota.
Kedua, penyusunan roadmap strategis lima tahunan dengan indikator kinerja yang jelas dan terukur.
Ketiga, program konkret untuk UMKM: inkubasi bisnis, akses pembiayaan, kemitraan rantai pasok, hingga digitalisasi pemasaran.
Keempat, konsolidasi internal dan pembukaan akses seluas-luasnya bagi seluruh pelaku usaha tanpa sekat eksklusivitas.
KADIN harus kembali ke khitahnya: menjadi penggerak, bukan penonton.
Momentum atau Kemunduran
Sejarah organisasi ditentukan oleh keberanian melakukan evaluasi. Jika kritik dianggap sebagai serangan, maka stagnasi akan menjadi permanen. Namun jika kritik dijadikan bahan refleksi, maka transformasi bukan hal yang mustahil.
Sulawesi Tengah membutuhkan KADIN yang kuat, progresif, transparan, dan inklusif. Bukan sekadar simbol status sosial, melainkan mesin penggerak ekonomi daerah.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah KADIN Sulteng akan berbenah dan bangkit, atau terus berjalan di tempat sementara dunia usaha bergerak cepat meninggalkannya?
Waktu yang akan menjawab. Tetapi dunia usaha tak bisa menunggu terlalu lama. (red)





