READNEWS.ID, PALU – Festival Danau Poso itu sudah tua. Umurnya lebih dari tiga puluh tahun. Sejak 1989.
Setiap tahun digelar. Setiap tahun meriah. Tapi, setiap tahun juga sama: selesai tanpa jejak ekonomi yang berarti.

Lampu-lampu padam, panggung dibongkar, ekonomi pun ikut tidur.
Wisatawan datang, selfie, lalu pergi. Masyarakat lokal tersenyum sesaat, lalu kembali ke rutinitas yang sama: menunggu festival berikutnya.

Masalahnya bukan pada festivalnya. Tapi pada cara kita melihatnya.
Kita sibuk membuat acara, bukan membangun ekosistem.
Kita bangga pada kemeriahan, bukan pada keberlanjutan.

Selama tiga dekade, Festival Danau Poso jarang dievaluasi secara mendalam.
Tidak ada pembenahan serius soal akses jalan, fasilitas, pelatihan SDM, hingga strategi promosi digital.
Festival ini terus hidup, tapi hanya di kalender, bukan di ekonomi rakyat.

Padahal, potensi Danau Poso luar biasa.
Pemandangan dan budayanya bisa menyaingi destinasi manapun di Indonesia.
Yang kurang hanyalah visi pengelolaan jangka panjang.
Bukan sekadar “event tahunan”, tapi platform ekonomi yang melibatkan UMKM, komunitas kreatif, pelaku wisata, dan pemerintah daerah.

Jika dikelola dengan ekosistem yang sehat, FDP bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi kawasan tengah Sulawesi.
Bisa menjadi sumber PAD yang stabil, bukan sekadar pesta tahunan.

Tapi untuk itu, harus ada keberanian untuk berubah.
Berani mengakui bahwa selama ini festival berjalan tanpa arah.
Berani mengukur apa yang berhasil, dan apa yang gagal.

Festival Danau Poso seharusnya tidak hanya menampilkan budaya tetapi menghidupkan ekonomi.
Bukan sekedar tentang tari dan musik, tapi tentang harapan yang bisa dirasakan di pasar, di warung, di hotel kecil, dan di rumah-rumah penduduk.

Kalau itu bisa diwujudkan, barulah FDP benar-benar menjadi kebanggaan.
Bukan sekadar meriah, tapi menghidupi.

Tiga dekade Festival Danau Poso.
Meriah, iya.
Tapi berdampak? Belum.
Dan selama itu belum terjadi, FDP akan tetap menjadi seremoni panjang yang tak berdampak. Yang seharusnya menjadi denyut ekonomi baru di jantung Sulawesi Tengah.

 

Penulis: Dr. Ir. Ihksan Syarifuddin, ST., M.M.
(Pemerhati ekonomi dan pariwisata Sulawesi Tengah, Wakil Ketua KADIN Kota Palu)