READNEWS.ID, SOLO — Di saat industri perbankan menghadapi tekanan yang kian kompetitif, Bank Sulteng justru tampil meyakinkan. Bank pembangunan daerah ini tidak hanya mencatatkan pertumbuhan, tetapi juga menunjukkan kualitas kinerja yang sehat dan berkelanjutan.
Capaian tersebut mendapat pengakuan nasional dalam ajang THE ASIANPOST BUMD Awards 2026 yang digelar di Alila Hotel Solo, Kamis (16/4/2026). Bank Sulteng dianugerahi predikat “BPD dengan Kinerja Sangat Baik Tahun 2025” untuk kategori KBMI 1.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Eko B. Supriyanto bersama Sigit Pramono kepada Direktur Utama Bank Sulteng, Ramiyatie.
Pengakuan ini menjadi signifikan jika melihat lanskap BUMD secara nasional. Dari lebih dari seribu BUMD yang beroperasi, hanya sebagian yang mampu mencetak laba. Di tengah kondisi tersebut, sektor perbankan daerah (BPD) justru menjadi penopang utama, baik dari sisi aset maupun kontribusi laba.
Dalam konteks itu, performa Bank Sulteng sepanjang 2025 tergolong menonjol. Laba bersih tercatat mencapai Rp277,6 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp242,2 miliar. Pertumbuhan ini diiringi tingkat profitabilitas yang tetap kuat, tercermin dari rasio ROA 2,90 persen dan ROE 11,23 persen.
Ekspansi bisnis juga berjalan secara terukur. Total aset naik menjadi Rp13,65 triliun, sementara penyaluran kredit mencapai Rp8,55 triliun. Di sisi lain, penghimpunan dana pihak ketiga menyentuh Rp9,26 triliun, dengan dominasi dana murah (CASA) yang memperkuat struktur likuiditas.
Kinerja pendapatan bunga masih menjadi tulang punggung, dengan nilai mencapai Rp1,08 triliun. Setelah dikurangi beban bunga, bank membukukan pendapatan bunga bersih sekitar Rp677,6 miliar, dengan margin bunga bersih (NIM) tetap terjaga di level 6,43 persen.
Tak hanya tumbuh, Bank Sulteng juga menunjukkan kualitas pengelolaan yang disiplin. Efisiensi operasional membaik dengan rasio BOPO 72,32 persen dan cost to income ratio (CIR) di kisaran 58 persen. Sementara itu, fungsi intermediasi tetap seimbang dengan Loan to Funding Ratio (LFR) di level 90,52 persen.
Dari sisi risiko, kualitas aset tetap terkendali. Rasio kredit bermasalah berada pada level yang aman, yakni NPL gross 2,72 persen dan NPL net 1,93 persen. Hal ini diperkuat oleh permodalan yang solid dengan CAR mencapai 23,11 persen.
Dengan fondasi tersebut, Bank Sulteng menunjukkan bahwa kekuatan bank daerah tidak lagi ditentukan semata oleh skala usaha, melainkan oleh kualitas tata kelola dan konsistensi kinerja. Penghargaan yang diraih menjadi bukti bahwa bank di kategori KBMI 1 pun mampu tampil kompetitif dan membuka peluang untuk naik kelas di masa mendatang.





