Menurut Wahmu, terbentuknya sebuah pemerintahan kabupaten atau kota tidak akan pernah lepas dari keberadaan suatu Dukuh, kampung ataupun Desa.

“Catatan ke arsipan sejarah kabupaten Pemalang, kami menilai masih minim, buku- buku sejarah kabupaten Pemalang, budaya, benda -benda peninggalan sejarah juga masih minim tergistrarikan” imbuhnya.

“Pemerintah daerah lewat dinas terkait harus lebih menggali lagi dan mencatat sejarah yang pernah terjadi dengan bekerja sama dari berbagai pihak” jelasnya.

Ditempat yang sama, seorang mahasiswa Universitas negeri Semarang, program pendidikan sejarah bernama Zahra nayla (20) mengungkapkan, selama dirinya mengikuti kegiatan kuliah kerja nyata di beberapa tempat yang ada di kabupaten Pemalang, berkaitan dengan sejarah kabupaten Pemalang dinilai masih minim Arsip kesejarahan,

“Kami buka di website catatan sejarahnya masih minim, lebih kepada tampilan penulisan akan tetapi minim catatan bukti sejarah” ungkapnya.

Sementara itu, kepala bidang kebudayaan pada dinas pendidikan kabupaten Pemalang Suwarso, ketika dihubungi lewati sambungan teleponnya, belum memberikan komentarnya terkait masalah ini (Ragil Surono).