Dampak Ekonomi bagi Luwu Raya

Masuknya investasi senilai ±Rp1,5 triliun di Luwu Utara memperkuat posisi kawasan Luwu Raya sebagai wilayah dengan basis ekonomi yang semakin terdiversifikasi. Selama ini, aktivitas ekonomi di kawasan tersebut, khususnya di Luwu Timur, banyak ditopang oleh sektor pertambangan nikel. Kehadiran proyek panas bumi berpotensi menambah struktur ekonomi berbasis energi terbarukan.

Secara makroekonomi daerah, proyek ini berpotensi mendorong peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan asli daerah melalui skema pajak dan retribusi.

Selain itu, investasi berskala internasional ini dinilai memperkuat daya tarik Luwu Raya di mata investor global, khususnya di sektor energi bersih yang kini menjadi prioritas dalam agenda transisi energi nasional.

Dimensi Sosial-Politik

Di luar aspek ekonomi, investasi panas bumi di Luwu Utara juga dipandang memiliki dimensi sosial-politik. Proyek ini berpotensi menjadi katalis dalam memperkuat narasi kelayakan ekonomi dan kemandirian kawasan Luwu Raya.

Namun demikian, dampak terhadap wacana pemekaran wilayah tetap bersifat simbolik dan politis. Keputusan final terkait pembentukan daerah otonom baru sepenuhnya berada pada kewenangan pemerintah pusat dan kebijakan nasional, bukan semata-mata ditentukan oleh kapasitas ekonomi daerah.

Dengan potensi 30 MW dan nilai investasi yang signifikan, proyek geothermal Rongkong menjadi salah satu langkah strategis dalam memperluas bauran energi bersih Indonesia sekaligus memperkuat fondasi ekonomi regional di Sulawesi Selatan.