READNEWS.ID, JOMBANG – Puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap hidangan berbuka puasa pada Kamis (5/3/2026) malam. Sebanyak 31 santri dilaporkan mengalami keluhan kesehatan, namun kondisi mereka kini berangsur membaik.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa tim kesehatan langsung diterjunkan ke lokasi setelah menerima laporan adanya santri yang mengalami mual dan muntah tak lama setelah berbuka puasa.
“Setelah laporan masuk, tim segera kami kirim ke pondok. Para santri yang mengalami keluhan langsung dievakuasi ke RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.

Dari sekitar 80 santri yang menyantap menu berbuka puasa di pondok tersebut, sebanyak 31 orang mengalami gejala gangguan kesehatan, terutama mual dan muntah. Gejala tersebut muncul tidak lama setelah mereka mengonsumsi makanan.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, kondisi para santri kini dilaporkan semakin membaik. Hingga Jumat dini hari, 10 santri telah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatan mereka stabil.
Sementara itu, 21 santri lainnya masih menjalani perawatan di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung untuk memastikan pemulihan berlangsung optimal.
“Sebagian sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya baik. Sisanya masih dalam pemantauan tenaga medis, namun semuanya tertangani dengan baik,” jelas Hexawan.
Dinas Kesehatan Jombang kini tengah melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi saat berbuka puasa telah diamankan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium Surabaya.
Sampel yang diambil meliputi makanan rawon yang dimasak pihak pondok, telur asin yang turut disajikan, serta sampel muntahan dari para santri. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memastikan sumber dugaan keracunan.
“Penyebab pastinya masih kami telusuri. Rawon diketahui dimasak oleh pihak pondok, sementara asal telur asin masih kami dalami apakah dari SPPG atau dari pondok,” tegasnya.
Pihak Dinas Kesehatan memastikan seluruh santri dalam kondisi sadar dan terus mendapatkan penanganan dari tenaga medis. Hasil uji laboratorium masih ditunggu untuk mengetahui secara pasti faktor penyebab kejadian tersebut.
Peristiwa ini turut menjadi perhatian karena salah satu menu yang dikonsumsi santri berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinas Kesehatan bersama instansi terkait kini melakukan pendataan dan pengawasan lebih lanjut guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Cinta





