Dikatakannya, justru dengan adanya jalur independent ini boleh dikatakan benar-benar tercermin suasana pemilihan kepala daerah yang kompetitif. Kalau fakta yang ada bahwa banyak yang justru berminat melalui jalur parpol saat ini, dapat disimpulkan bahwa Pilkada Poso tahun ini derajat demokrasi lokal kita justru mengalami kemunduran, dibanding pada saat pilkada sebelumnya tahun 2020 yang secara jelas hadirnya calon independent yaitu bapak syamsuri dan Toni sowolino.
Masih menurut bung Budi, bahwa seharusnya dengan jumlah calon kandidat Bupati dan wakil yang begitu banyak mendaftar di parpol, harus ada diantara mereka yang berani mengambil sikap maju lewat jalur independent ini.
Ditambahkannya, ada beberapa faktor yg menyebabkan kemungkinan menjadi alasan saat ini, para kandidat belum melirik jalur independent ini yaitu pertama, terkait dengan ketersediaan jejaring sosial dan dukungan mereka yang kuat di wilayah desa/kelurahan dan kecamatan dalam memperoleh dukungan syarat KTP dengan jumlah minimal yg diisyaratkan oleh KPU Poso.
Makanya kata Budiman, jejaringnya tidak solid maka dipastikan akan banyak kendala dalam proses pendaftaran bahkan bisa jadi tidak memenuhi syarat dukungan. kedua, soal logistik untuk mensupport untuk menemukan dukungan yang cukup banyak. ketiga, ada kemungkinan soal sosialisasi yang kurang masif terhadap pencalonan melalui jalur perseorangan atau independent ini. (SYM)





