READNEWS.ID, JAKARTA – Senin pagi itu, 20 April 2026, halaman SMA Wijaya Kusuma tidak sekadar menjadi ruang berkumpul bagi para siswa. Ada sesuatu yang berbeda di udara—suasana yang lebih hening, namun sekaligus hangat. Di tengah rutinitas pembiasaan literasi yang biasa dijalankan, hari itu menjelma menjadi panggung kecil bagi lahirnya para penulis muda.

Kegiatan dimulai seperti biasanya. Buku-buku dibuka, lembar demi lembar dibaca. Namun, perlahan suasana berubah ketika sebuah pengumuman disampaikan. Bukan sekadar agenda sekolah, melainkan sebuah penanda perjalanan: peluncuran buku antologi puisi berjudul “Menenun Asa di Tengah Riuh”.

Buku itu bukan karya penulis ternama. Ia lahir dari tangan-tangan muda—para siswa yang setiap harinya duduk di bangku kelas, yang mungkin selama ini lebih dikenal lewat angka-angka di rapor daripada kata-kata di atas kertas. Namun pagi itu, mereka berdiri sebagai penulis.

Satu per satu nama dipanggil ke depan. Langkah mereka mungkin terlihat sederhana, namun di balik itu tersimpan keberanian yang tidak kecil: keberanian untuk jujur, untuk menulis, untuk didengar. Setiap nama yang disebut bukan hanya identitas, tetapi juga cerita—tentang kegelisahan, harapan, mimpi, bahkan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.

Tepuk tangan pun bergema, mengiringi setiap langkah. Bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan. Di wajah para siswa, tampak campuran rasa bangga dan haru. Di mata para guru, tersirat kepuasan—bahwa upaya menumbuhkan budaya literasi selama ini tidak sia-sia.

Menenun Asa di Tengah Riuh menjadi lebih dari sekadar kumpulan puisi. Ia adalah cermin kecil dari kehidupan para siswa di tengah dinamika yang mereka jalani. Lewat bait-bait sederhana, mereka berbicara dengan cara yang jujur—tentang dunia mereka, tentang rasa yang mungkin sulit diucapkan secara langsung.