
Di tengah riuhnya kehidupan yang serba cepat, suara-suara ini hadir sebagai pengingat: bahwa setiap individu, sekecil apa pun, memiliki cerita yang layak didengar. Dan ketika ruang itu diberikan, mereka tidak hanya menulis—mereka menemukan suara mereka sendiri.
Momen itu pun menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah bukti bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga ruang untuk tumbuh, berekspresi, dan bermakna. Dari sana, lahir bukan hanya siswa yang cerdas, tetapi juga manusia yang mampu merasakan dan menyampaikan.
SMA Wijaya Kusuma, melalui kegiatan ini, kembali menegaskan satu hal penting: literasi bukan sekadar kebiasaan, melainkan jalan untuk membentuk karakter. Sebab pada akhirnya, setiap nama yang dipanggil hari itu membawa satu cerita.
Dan setiap cerita—sekecil apa pun—memiliki kekuatan untuk menggema lebih jauh dari yang dibayangkan.





