PALU, READNEWS.ID – Konflik antarkelompok pemuda di wilayah Kelurahan Anoa dan Kelurahan Nunu, Kota Palu, kembali menyisakan keprihatinan setelah jatuhnya korban jiwa. Di tengah situasi tersebut, sosok Moh. Rais Saruji, seorang tokoh pemuda asal Anoa, menjadi perhatian karena sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi terjadinya bentrokan di antara kedua kelompok.
Bagi Rais, perseteruan antara dua wilayah yang masih memiliki ikatan kekerabatan bukan sekadar persoalan perbedaan kelompok. Lebih dari itu, konflik berkepanjangan berpotensi merusak hubungan sosial dan mengancam masa depan generasi muda.
Moh. Rais Saruji, yang akrab disapa Rais, lahir di Desa Tamalanja, yang kini dikenal sebagai Kelurahan Anoa, pada 12 Mei 1975. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Dalam perjalanan organisasinya, Rais pernah terlibat di sejumlah organisasi kepemudaan, antara lain FKPPI, KNPI, dan DPD Rajawali di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah.
Pengalaman berorganisasi tersebut membawanya berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat. Ia menilai, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius adalah pola hubungan antarkelompok pemuda di wilayah Anoa dan Nunu yang hingga kini masih dibayangi perseteruan.
Menurut Rais, sudah waktunya pemerintah, aparat kepolisian, serta tokoh masyarakat mengambil peran lebih aktif untuk memutus tradisi permusuhan yang terus berulang.
“Sudah saatnya kita membuka ruang solusi. Jangan sampai generasi muda terus terbelenggu kebencian dan permusuhan yang pada akhirnya justru merenggut nyawa mereka sendiri,” demikian pesan yang disampaikan Rais.
Peringatan Sebelum Bentrokan
Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan adalah penuturan Rais mengenai pertemuannya dengan Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol Rizal Irawan.
Dalam rangkaian kunjungan jajaran kepolisian ke rumah duka korban konflik, Kapolda disebut menyempatkan diri berkunjung ke kediaman Rais. Kunjungan tersebut kemudian disusul oleh Kasdam XXIII/Palaka Wira, Brigjen TNI Agus Sasmita.
Dalam pertemuan itu, Rais mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan terjadinya bentrokan antara kelompok pemuda dari dua kelurahan tersebut. Ia mengaku telah membaca sejumlah tanda yang menurut penilaiannya mengindikasikan potensi konflik dalam waktu dekat.
Rais pun menyampaikan perlunya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan aparat kepolisian untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrokan.
Menanggapi hal tersebut, Kapolda, menurut penuturan Rais, meminta agar setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu keamanan segera dilaporkan kepada Polresta Palu.
Rais juga menyampaikan harapan agar pembangunan kantor kepolisian sektor di wilayah tersebut dapat direalisasikan. Menurutnya, keberadaan fasilitas kepolisian yang lebih dekat dengan masyarakat diperlukan untuk memperkuat pengawasan dan mempercepat respons terhadap potensi gangguan keamanan. Ia menyebut lahan untuk pembangunan tersebut sebelumnya telah disediakan oleh mantan Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura.
Namun, kekhawatiran yang disampaikan Rais kemudian diikuti peristiwa bentrokan pada sore hari berikutnya. Dua kelompok dari wilayah Anoa dan Nunu dilaporkan terlibat saling serang.
Pada malam harinya, Rais kembali menerima panggilan telepon dari Kapolda yang menanyakan perkembangan dan kronologi kejadian.
Dalam penuturan Rais, Kapolda sempat melontarkan ungkapan yang bernada apresiasi karena peringatan mengenai potensi konflik telah disampaikan sebelum bentrokan terjadi. Bahkan, muncul komentar bahwa informasi yang diperoleh Rais lebih cepat dibandingkan informasi yang diterima aparat.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa informasi dari masyarakat dan tokoh lokal dapat menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini gangguan keamanan.
Mendorong Perdamaian, Bukan Memperpanjang Permusuhan
Di tengah situasi konflik yang telah menelan korban jiwa, perhatian kemudian tertuju pada upaya penyelesaian yang melibatkan pemerintah daerah dan aparat keamanan.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, sebagaimana disampaikan dalam informasi yang diterima Rais melalui telepon seluler, menekankan pentingnya penanganan terhadap para pelaku kerusuhan dan penembakan sesuai ketentuan hukum.
Selain penegakan hukum, Gubernur juga mendorong pertemuan yang melibatkan para pemuda dari kedua wilayah yang berseteru.
Pertemuan tersebut dinilai penting untuk membuka komunikasi, mempertemukan pihak-pihak yang bertikai, sekaligus mencari jalan keluar agar konflik tidak kembali terulang.
Dalam upaya itu, aparat kepolisian diharapkan memberikan jaminan keamanan bagi seluruh pemuda yang diundang, baik dari Kelurahan Anoa maupun Kelurahan Nunu. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari proses membangun kesepahaman dan mengakhiri perseteruan.
Bagi Rais, penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan menghentikan bentrokan. Diperlukan langkah yang lebih mendasar, yakni mengubah cara pandang generasi muda agar tidak lagi menjadikan perbedaan wilayah sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
Ia mengajak pemerintah, kepolisian, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi muda untuk bersama-sama membangun ruang dialog dan perdamaian.
Sebab, setiap nyawa yang hilang akibat konflik merupakan kehilangan besar bagi keluarga, masyarakat, dan masa depan Sulawesi Tengah.
Pada akhirnya, kepekaan membaca potensi konflik harus diikuti tindakan nyata. Peringatan dini perlu ditindaklanjuti dengan komunikasi, kehadiran aparat, penegakan hukum, dan pendekatan sosial yang berkelanjutan.
Anoa dan Nunu bukan sekadar dua wilayah yang pernah berseteru. Keduanya merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki masa depan bersama. Karena itu, mengakhiri permusuhan menjadi tanggung jawab bersama agar generasi berikutnya tidak mewarisi konflik yang sama.





