Dalam momentum tersebut, para penulis yang dikenal dengan sebutan Piantun Wiwitan juga akan menyerahkan sebuah buku berjudul “Sesaregan Lumampah Sesaregan Ngawula”. Buku tersebut diharapkan menjadi dokumentasi sejarah sekaligus warisan bagi anak cucu dan generasi mendatang agar senantiasa mengenang perjalanan serta jasa para pendiri Rukun Jawa Kristen.

Peringatan satu dekade Rujak Kota Palu tahun ini juga mengangkat filosofi Jawa Natas, Nitis, Netes sebagai landasan nilai dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat.

Filosofi Natas mengandung pesan bahwa setiap anak yang lahir membawa harapan baru. Karena itu, generasi penerus perlu dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan memiliki akhlak mulia.

Sementara itu, Nitis mengajarkan pentingnya mempertahankan nilai kebaikan, moral, dan kemanusiaan di tengah perkembangan era digital. Nilai-nilai yang bersumber dari budaya dan ajaran agama tersebut diharapkan tetap menjadi pedoman agar manusia tidak kehilangan hati nurani.

Adapun Netes mengandung makna bahwa kehidupan hendaknya meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama. Warisan tersebut tidak selalu berupa materi, tetapi juga ilmu pengetahuan, etika, etos kerja, dan kejujuran yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Melalui peringatan HUT ke-10 ini, Rujak Kota Palu berharap dapat terus menjadi wadah kebersamaan yang tidak hanya menjaga persaudaraan dan nilai-nilai budaya Jawa, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat Natas, Nitis, Netes diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk membawa harapan, menjalani kehidupan dengan makna, serta mewariskan kebaikan bagi sesama.