Pada malam harinya, Rais kembali menerima panggilan telepon dari Kapolda yang menanyakan perkembangan dan kronologi kejadian.
Dalam penuturan Rais, Kapolda sempat melontarkan ungkapan yang bernada apresiasi karena peringatan mengenai potensi konflik telah disampaikan sebelum bentrokan terjadi. Bahkan, muncul komentar bahwa informasi yang diperoleh Rais lebih cepat dibandingkan informasi yang diterima aparat.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa informasi dari masyarakat dan tokoh lokal dapat menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini gangguan keamanan.
Mendorong Perdamaian, Bukan Memperpanjang Permusuhan
Di tengah situasi konflik yang telah menelan korban jiwa, perhatian kemudian tertuju pada upaya penyelesaian yang melibatkan pemerintah daerah dan aparat keamanan.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, sebagaimana disampaikan dalam informasi yang diterima Rais melalui telepon seluler, menekankan pentingnya penanganan terhadap para pelaku kerusuhan dan penembakan sesuai ketentuan hukum.
Selain penegakan hukum, Gubernur juga mendorong pertemuan yang melibatkan para pemuda dari kedua wilayah yang berseteru.
Pertemuan tersebut dinilai penting untuk membuka komunikasi, mempertemukan pihak-pihak yang bertikai, sekaligus mencari jalan keluar agar konflik tidak kembali terulang.
Dalam upaya itu, aparat kepolisian diharapkan memberikan jaminan keamanan bagi seluruh pemuda yang diundang, baik dari Kelurahan Anoa maupun Kelurahan Nunu. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari proses membangun kesepahaman dan mengakhiri perseteruan.
Bagi Rais, penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan menghentikan bentrokan. Diperlukan langkah yang lebih mendasar, yakni mengubah cara pandang generasi muda agar tidak lagi menjadikan perbedaan wilayah sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
Ia mengajak pemerintah, kepolisian, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi muda untuk bersama-sama membangun ruang dialog dan perdamaian.
Sebab, setiap nyawa yang hilang akibat konflik merupakan kehilangan besar bagi keluarga, masyarakat, dan masa depan Sulawesi Tengah.
Pada akhirnya, kepekaan membaca potensi konflik harus diikuti tindakan nyata. Peringatan dini perlu ditindaklanjuti dengan komunikasi, kehadiran aparat, penegakan hukum, dan pendekatan sosial yang berkelanjutan.
Anoa dan Nunu bukan sekadar dua wilayah yang pernah berseteru. Keduanya merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki masa depan bersama. Karena itu, mengakhiri permusuhan menjadi tanggung jawab bersama agar generasi berikutnya tidak mewarisi konflik yang sama.





