PALU, READNEWS.ID — Pemadaman listrik bergilir yang berlangsung selama berbulan-bulan di Sulawesi Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan dunia usaha. Bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat, ketidakpastian pasokan energi kini dinilai berpotensi menghambat investasi, mengancam keberlangsungan industri pengolahan durian beku, hingga menggagalkan peluang ekspor ke pasar internasional.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menyampaikan peringatan keras terkait kondisi tersebut. Ia menilai persoalan kelistrikan tidak lagi dapat dipandang sebatas gangguan pelayanan publik, melainkan telah menjadi persoalan strategis yang menyangkut iklim investasi dan masa depan industrialisasi Sulawesi Tengah.
Dalam wawancara eksklusif melalui pesan WhatsApp, Sabtu (7/11), Faradiba mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima keluhan dari puluhan investor dan pelaku usaha, terutama mereka yang bergerak di sektor industri pengolahan durian.
“Saya telah menerima keluhan dari puluhan investor dan pelaku usaha, khususnya yang bergerak di sektor industri pengolahan durian. Pasokan listrik yang tidak stabil mengganggu operasional mesin-mesin berkapasitas besar di gudang pengolahan. Bahkan, produk durian beku yang membutuhkan suhu penyimpanan konsisten menghadapi risiko kerusakan dan kerugian ekonomi,” ungkapnya.
Menurut Faradiba, industri durian beku memiliki ketergantungan tinggi terhadap ketersediaan listrik. Mesin pembekuan, fasilitas produksi, hingga cold storage membutuhkan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan. Gangguan listrik berulang dapat memengaruhi kualitas produk, kontinuitas produksi, serta kemampuan perusahaan memenuhi standar dan kontrak ekspor.
Investasi Rp300 Miliar Terancam Kehilangan Kepastian
Kekhawatiran KADIN Parigi Moutong semakin besar karena Sulawesi Tengah tengah menghadapi peluang investasi baru di sektor pengolahan durian.
Faradiba menyebut terdapat investor yang berminat menanamkan modal sekitar Rp300 miliar di sektor durian. Namun, ketidakpastian pasokan listrik berpotensi menjadi pertimbangan serius sebelum investasi tersebut direalisasikan.
“Ada investor yang ingin tanam saham di sektor durian sekitar Rp300 miliar. Miris sekali kalau hanya persoalan listrik membuat mereka mundur dan tidak jadi berinvestasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan, investor membutuhkan kepastian infrastruktur sebelum mengalokasikan modal dalam jumlah besar. Ketersediaan bahan baku dan potensi pasar ekspor saja tidak cukup apabila fasilitas industri tidak didukung pasokan energi yang dapat diandalkan.
“Saya khawatir kondisi ini membuat investor luar negeri maupun pelaku usaha dalam negeri berpikir berkali-kali sebelum merealisasikan investasinya. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka mengalihkan rencana investasi ke daerah lain yang memiliki kepastian energi lebih baik,” tambahnya.
Menurutnya, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan. Petani durian, pengepul, tenaga kerja, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada rantai industri durian juga berpotensi terkena imbasnya.
Momentum Ekspor Durian Jangan Terhambat

Sulawesi Tengah memiliki peluang besar mengembangkan industri durian beku untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, khususnya Tiongkok.
Faradiba menjelaskan bahwa pada 2027 pembangunan gudang pengolahan dan fasilitas produksi durian beku diproyeksikan meningkat. Peluang ini dapat membuka investasi baru, memperluas penyerapan tenaga kerja, membangun kemitraan dengan petani, serta meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
Apalagi, periode panen durian di Sulawesi Tengah diperkirakan berlangsung mulai Desember 2026 hingga September 2027.
Menurutnya, daerah sedang membangun ekosistem industri durian yang melibatkan berbagai mata rantai, mulai dari petani, pengepul, rumah pengemasan, industri pengolahan, hingga eksportir.
Momentum tersebut harus dijaga melalui kesiapan infrastruktur dasar, terutama kelistrikan.





